NEWS, SPORT

Resmi Jadi Sekjen PSSI, Begini Profil Ratu Tisha Destria yang Punya Segudang Prestasi

loading...

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mengumumkan Sekretaris Jenderal yang baru pasca mundurnya Ade Wellington beberapa waktu yang lalu.

Melansir dari Tribunnews.com, Sekretaris Jenderal yang baru itu adalah Ratu Tisha Destria yang pernah menjabat Direktur Kompetisi dan Operasional PT Gelora Trisula Semesta, operator Indonesia Soccer Championship 2016.

Wanita berusia 32 tahun ini memang sudah digadang-gadang oleh Ketua Umum PSSI, Edi Rahmayadi sebagai calom yang paling kuat.

Sebelum bulan puasa, diketahui sudah diadakan fit and proper yang kemudian sudah keluar peringkat satu hingga tiga sesuai penilaian yang dikeluarkan Komite Eksekutif (Exco) PSSI.

Melalui rapat Exco PSS inilah, Ratu Tisha terpilih menjadi Sekjen PSSI yang baru.

“Tadi macam-macam dari yang dihadiri 10 anggota Exco masing masing memiliki alasan tersendiri. Salah satunya mungkin karena dianggap sudah cakap dalam organisasi pengelolaan kompetisi pada musim lalu (TSC),” tutur Iwan Budianto selaku Kepala Staf Ahli PSSI.

Rencananya, Tisha akan mengucapkan sumpah jabatan pada awal pekan depan.

“Tadi salah satu yang dimintakan (sumpah jabatan) dalam rapat tadi adalah mungkin Senin/Selasa. Tisha akan bertemu dengan sejumlah Exco sebelum Tisha dilantik untuk membicarakan detailnya,” tambah Iwan.

Seperti apa profil dari Ratu Tisha Destria ini hingga dipercaya menjadi Sekjen PSSI yang baru?

Semuanya itu berawal dari pesta sepak bola Indonesia kembali bergelora setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun tangan merestui digelarnya Kejuaraan Sepak Bola Torabika (Torabika Soccer Championship/TSC), yang dimulai pada 29 April 2016 silam.

Di situlah Ratu Tisha Destria berperan besar untuk mengawal kualitas kompetisi sebagai Direktur Kompetisi TSC.

Melansir dari Kompas Print, alumnus FIFA Master ini menjadi bintang baru di dunia sepak bola Indonesia lantaran setiap rapat penting dengan klub, pertemuan dengan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), dan pembahasan peraturan kompetisi yang berlangsung alot mengundang perhatian para wartawan.


Ratu Tisha Destria
Ratu Tisha Destria (Kompas Print)

Apalagi saat dirinya mengantarkan semua punggawa klub peserta TSC saat bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Presiden karena dirinya satu-satunya perempuan.

Umurnya yang terbilang masih muda membuat kapasitas dirinya diragukan oleh banyak pihak.

Namun, perempuan sarjana Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memiliki pengetahuan dan visi tentang sepak bola yang sangat jauh ke depan.

Peran besarnya dalam melahirkan konsep kompetisi TSC ini, membuat Tisha mudah mendapatkan kepercayaan dan hormat dari anggota asosiasi provinsi dan pengurus klub Tanah Air.

Ia bahkan juga mengaku kaget saat dirinya ditunjuk sebagai direktur kompetisi. Namun, terlepas dari itu ia malah merasa lebih tertantang dengan adanya jabatan itu.

Ratu Tisha Destria
Ratu Tisha Destria (Kompas Print)

Tantangan terbesarnya saat penyelenggaraan kompetisi ini adalah selain membangun infrastruktur, juga dalam membangun komunikasi dan mendapatkan kepercayaan dari semua pemangku kepentingan.

”Sepak bola itu butuh sistem pendukung yang kuat, tidak bisa hanya satu aspek untuk membuat fondasi. Selama ini, mungkin yang berjalan baru satu aspek, yakni sisi penyelenggara kegiatan saja. Padahal, kolaborasi dengan banyak mitra menjadi kunci,” ujar Tisha.

Bagi Tisha, permainan sepak bola adalah bagaimana sebelas pemain dari setiap tim membagi bola untuk mencetak gol dengan alur permainan dari kaki ke kaki yang indah.

Tisha memang sudah tertarik dalam mengurus olahraga, khususnya sepak bola sejak ia duduk di bangku kelas I SMA Negeri 8 Jakarta.

Ia sempat terlibat membangun tim sepak bolah sekolahnya dan sekaligus menjabat sebagai manajer.

Kemudian ia semakin tertarik ketika mengikuti pertukaran antarbudaya AFS di kota Leipzig, Jerman, yang kehidupan masyarakatnya begitu bersemangat.

Hidup selama setahun di kota kecil bagian Jerman Timur membuat dirinya menikmati masyarakat lokal yang sangat senang dengan sepak bola.

Komunikasi dengan orang-orang di sana pun bisa nyambung dengan hanya membahas sepak bola.


Ratu Tisha Destria
Ratu Tisha Destria (Kompas Print)

Ia mengenyam pendidikan di Max-Klinger Schule Gymnasium selama setahun dan juga sempat belajar manajemen olahraga di sana.

Inilah kesempatan yang membuat dirinya makin memahami bahwa yang menjadi kunci dalam olahraga adalah semangat.

Saat kembali ke Tanah Air, ia menyelesaikan sekolahnya di SMA Negeri 8 Jakarta dan masih terus mengurus kesebelasan sekolahnya dan berhasil membawa juara.

Setelah lulus SMA, ia mengikuti tes masuk ke Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB dan meninggalkan kesempatan bebas tes di Universitas Telkom di Bandung.

Baginya, memilih studi pada jurusan Matematika karena ia yakin dengan pilihannya tersebut dan juga tahu bahwa angka-angka berhubungan dengan olahraga, khususnya bola.

Di bangku kuliah, Tisha kembali menjadi manajer bagi tim PS ITB yang berlaga di Divisi I Provinsi Jawa Barat.

Tak hanya menjadi manajer yang hanya mengurus persiapan tim untuk bertanding, tetapi ia juga menyusun data klub, jadwal latihan,serta kalender pertandingan dari klubnya.

Hingga PS ITB sempat mendapatkan promosi naik tingkat ke divisi utama.

”Waktu di SMA, saya membangun tim sepak bola dari nol, dan saat di kampus saya langsung melebur mengurus tim ITB. Sebelum mendatangkan pelatih, untuk mendapatkan menu dan metode latihan fisik, saya selalu mempelajarinya dari buku di perpustakaan kampus. Modalnya cuma semangat. Dan ternyata, jika kita lakukan sungguh-sungguh apa yang kita impikan, bisa terwujud. Kami tak cuma sekadar membangun tim, tetapi juga menghasilkan tim juara,” kenang Tisha, yang mahir dalam enam bahasa.

Saat akhir masa kuliah, Tisha bersama teman-teman yang hobi sepak bola mulai merintis membangun bisnis yang bergerak di bidang stastistk olahraga khususnya sepak bola.

Berdiri dengan bendera perusahaan yang diberi nama LabBola, Tisha dan kawan-kawan menawarkan jasa penyediaan data statistik performa tim.

Data tersebut bisa membantu tim untuk mengajukan proposal kepada sponsor.

Ia lulus dari ITB tahun 2008 dan langsung menerima tawaran bekerja pada perusahaan jasa perminyakan Schlumberger.

Pada perusahaan ini, Tisha mendapat banyak tambahan ilmu, terutama dalam eksplorasi data dan konflik manajemen.

Ia bahkan harus berpindah-pindah Negara dari Kairo, Mesir, Houston, Amerika Serikat, London, Inggris, dan Beijing Tiongkok.

Meski begitu, ia masih bisa menyempatkan diri untuk tetap bisa berkomunikasi dengan teman-temannya yang mengelola LabBola.

Empat tahun kemudian Tisha memutuskan berhenti kerja dan lebih memilih fokus untuk membesarkan LabBola.

Ia kemudian mempelajari kondisi sepak bola nasional sekaligus mencari kesempatan untuk menjalin komunikasi dengan federasi.

Untuk menambah ilmu dan wawasan, berbagai seminar sepak bola ia ikuti, termasuk seminar sepak bola internasional yang diadakan di Jepang, Belgia, dan Denmark.

Hal itu membuat jaringan Tisha semakin luas.

Ia juga mendapat informasi tentang program FIFA Master yang disponsori FIFA sebagai bagian dari mengembalikan 90 persen keuntungan mereka untuk pengembangan sepak bola.

Program ini dijalankan International Centre for Sports Studies (CIES) yang menggandeng beberapa universitas.

Beberapa bidang studi yang dipelajari dalam program ini di antaranya Sport Humanity, Manajemen Olahraga, dan Hukum Olahraga.

Berbekal portofolio dari kegiatan seminar yang dia ikuti, Tisha kemudian mendaftar dan mengikuti tes program FIFA Master.

Dari 6.400 pendaftar, akhirnya hanya 28 orang yang diterima, termasuk Tisha.

Setelah menyelesaikan studi selama satu setengah tahun dalam program FIFA Master, Tisha berhak menyandang gelar Master of Art. Tisha lulus dengan hasil memuaskan menduduki peringkat ke-7 dari 28 siswa.

Tisha menceritakan, program FIFA Master memberi dia banyak pandangan baru dalam pengembangan olahraga, terutama sepak bola.

Potensi sepak bola Indonesia jauh lebih menjual dibandingkan dengan negara lain.

”Basis market kita sudah jadi. Sekarang kita tinggal mengubah sistem marketing yang selama ini bersifat ownership menjadi partnership,” katanya.

LabBola, yang kini memiliki 23 personel kreatif, sudah kian berkembang. Turnamen sepak bola Inter Island menjadi proyek besar pertama mereka.

Berikutnya menyusul proyek di Liga Indonesia, tim nasional PSSI, serta klub Persebaya dan Bali United. Belakangan menyusul klien baru, seperti tabloid Bola, Chanel Bola Indonesia di K-Vision, serta Liga Kompas Gramedia U-14 Panasonic.

Bahkan, LabBola juga sudah go internasional dengan menggarap proyek data dan statistik pada kompetisi Piala Raja Malaysia.

Kini, Tisha harus membuktikan keyakinan dan semangatnya mengurus sepak bola nasional ini agar bisa menuai hasil yang membuat pencinta bola di Tanah Air kembali bergairah kembali.

loading...
Loading...