Religi

INILAH 6 Penelitian dan Teori yang Mendukung Konsep Agama dan Ketuhanan, Selengkapnya

loading...

Para ilmuwan seringkali memiliki ambisi untuk menemukan berbagai teori yang belum pernah ada sebelumnya, atau mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah ada untuk jadi lebih sempurna. Inilah yang membuat ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang di setiap tahunnya.

Meski demikian, banyak juga peneliti yang menaruh perhatian soal berbagai konsep agama dan berbagai konsep yang diajarkan dalam kitab suci berbagai agama.

Seringkali hal ini berangkat dari kesadaran bahwa ilmu pengetahuan yang tak terbatas tentu ada yang menciptakan dan mengatur. Berikut beberapa penelitian yang dukung konsep agama dan ketuhanan.

1. Partikel ‘Matter dan anti-Matter’ dan Higgs Boson
Menurut banyak sekali studi, alam semesta ini sebenarnya tak akan bisa bertahan lebih dari satu detik. Sebagai contoh, Big Bang seharusnya memproduksi jumlah yang sama antara matter dan antimatter, dan jika tidak semesta akan hancur.

Namun sebaliknya jumlah matter justru lebih banyak dan alam semesta tercipta. Hal ini sama sekali tak bisa dijelaskan ilmuwan.

Dalam teori lain yang menyangkut partikel Higgs Boson atau ‘Partikel Tuhan’, tak pernah bisa dijelaskan bagaimana benda apapun termasuk alam semesta mendapatkan massa mereka. Tanpa adanya massa alam semesta pun tak akan ada secara nyata.

Selain itu, kombinasi jarak antara planet-planet di Tata surya kita adalah hal yang cukup jadi misteri. Bumi berada pada jarak yang pas pada matahari sehingga tak terlalu dekat hingga membakar, dan terlalu jauh hingga membeku.

Belum lagi jarak antar planet seperti ke Jupiter, yang mampu membantu Bumi untuk menarik komet dan asteroid untuk menjauhi dan tidak menghantam Bumi. Hal ini tidak bisa dijelaskan.

2. Teorema Tidak Lengkap Dari Godel
Kurt Friedrich Godel, matematikawan asal Amerika yang lahir di Austria, menelurkan ‘Teorema Tidak Lengkap’ yang menegaskan keberadaan Tuhan. Teori ini kemudian berkembang dengan dua bagian utama, yakni ‘kebutuhan’ dan ‘peluang’.

Berdasarkan penelitian Universitas Stanford, teori Godel menyatakan bila Tuhan adalah zat yang paling agung dan ada di setiap pemikiran manusia.

Nah, secara otomatis kita memercayai adanya Tuhan bila kita yakin di luar sana ada zat lebih hebat dari apapun. Oleh sebab itu, keberadaan Tuhan bisa dikatakan absolut.

Selain itu, di era yang sama, terdapat Leonhard Euler, yang dikenal sebagai ilmuwan sekaligus pemeluk agama yang taat. Hal ini dibuktikan dengan kemenangannya mengalahkan filsuf atheis dari Prancis, Denis Diderot, di sebuah argumen soal keberadaan Tuhan.

Euler memenangkan adu opini dengan memaparkan rumus “{a+b^n}/{n}=x” untuk menjelaskan keberadaan Tuhan. Sayangnya belum ada penjelasan secara detail dari rumus ini.

3. Alam Semesta Adalah Simulasi Komputer
Pada tahun 2003, seorang filsuf bernama Nick Bostrom mengungkapkan bahwa alam semesta adalah simulasi komputer.

Teori ini diterima oleh para pegiat sains yakni Elon Musk dan Neil deGrasse Tyson. Hal ini mendukung pendapat bahwa selalu harus ada yang membangun dan mengatur simulasi tersebut.

Karena alam semesta dipercaya akan menemui titik kehancurannya, banyak ilmuwan yang percaya bahwa manusia dapat mendeteksi batas-batas alam semesta.

Hal ini dilakukan ilmuwan Jerman yang mencoba fokus pada sinar kosmik yang fragmen atomnya berasal dari luar Tata Surya kita.

Sinar kosmik ini seharusnya punya kekuatan yang terbatas dan lama kelamaan makin menurun. Namun ketika sinar kosmik ini sampai di Bumi, mereka memiliki jumlah energi yang sama, yakni 10 elektron Volt.

Hal ini memperlihatkan bahwa sinar kosmik memiliki titik awal serupa sehingga selalu memiliki jumlah yang sama. Hal ini tentu ‘diatur’ layaknya kita mengendalikan komputer.

4. Rumitnya DNA Tak Mungkin Begitu Saja Terbentuk
Francis S. Collins M.D. & Ph.D, Ketua Proyek Penelitian Gen Manusia di tahun 2007 lalu menyatakan bila DNA manusia menyimpan bukti keberadaan Tuhan.

Dr. Collins mengungkapkan bila DNA adalah bahasa Tuhan, dan perwujudan dari rencana Tuhan yang juga bagian dari alam.

Gen manusia memang sangat kompleks dengan bagian data mencapai miliaran. Hal seperti ini tentu lahir berkat desain panjang dari ‘sesuatu’ yang sangat hebat di luar jangkauan intelejensi manusia.

Lebih lanjut, ada beberapa pertanyaan dari Dr. Collins yang menguatkan argumennya, antara lain ‘Apa arti hidup?’, ‘Siapa yang memulai alam semesta?’, dan tentu saja ‘Siapa sosok hebat yang mampu menciptakan DNA yang sangat rumit itu?’.

5. Psikiater yang Logiskan Konsep Reinkarnasi
Dalam agama Buddha dikenal konsep reinkarnasi yang percaya seseorang akan hidup kembali di jiwa yang lain setelah meninggal. Budaya yang sama sekali tak mengenal konsep semacam ini, mencoba menalarkan dengan kajian ilmiah.

Seorang psikiater dari University of Virginia bernama Jim Tucker, menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari data tentang anak-anak yang mengklaim diri memiliki kehidupan masa lalu.

Dengan mengolah berbagai data dengan metodologi yang sangat baik, Jim mendapat sebuah pola dari data yang dia kumpulkan.

Data dari Jim menunjukkan bahwa hanya anak berumur 2 hingga 6 tahun yang menyadari bahwa ia memiliki kehidupan masa lalu, dan rata-rata kematian kehidupan masa lalunya di umur 28 tahun, di mana 70 persennya meninggal dengan kekerasan atau tidak biasa.

Meski ada pola yang ditemukan, hal ini tak membuktikan apa-apa tentang eksisnya reinkarnasi secara ilmiah.

Selain dari penelitian ini, sebuah teori dijabarkan dari aspek fisika kuantum. Dari fisika kuantum, kehidupan itu berasal dari kesadaran yang membentuk material, bukan sebaliknya.

Jika teori ini benar, sebuah kesadaran tentu tak butuh tubuh atau otak secara fisik untuk hidup. Meski demikian, hal ini tak membuat reinkarnasi jadi ada secara ilmiah.

6. Teori Lahirnya Yesus Kristus
Kisah tentang lahirnya Yesus Kristus dari rahim seorang ibu yang perawan adalah bagian yang sangat penting dari agama Kristen. Hal ini dipercaya sebagai Roh Kudus yang dikandung dan dilahirkan oleh Bunda Maria yang perawan.

Para ilmuwan merasa meski belum menemukan penjelasan ilmiahnya, konsep semacam ‘clone’ yang melahirkan Yesus, seharusnya membuat Yesus berjenis kelamin wanita, karena sesuai dengan ‘clone’ ibunya.

Hal ini jadi tanda tanya besar bagi para ilmuwan, di mana mereka bertanya-tanya dari mana Yesus mendapat kromosom Y yang membuatnya jadi seorang laki-laki.

Sebuah pendapat muncul tentang hal ini, di mana Bunda Maria dianggap membawa kromosom XY namun mengalami kondisi ‘testicular feminization.’

Meski demikian, ada sedikit kekurangan dari teori ini. Karena dalam kasus ini seharusnya dalam proses partenogenesis atau mengandung tanpa fertilisasi yang terjadi pada Bunda Maria.

Ia mengandung seorang dengan kromosom X yang kebal terhadap testosteron, yakni wanita. Hal ini membuat lahirnya Yesus Kristus murni kuasa Tuhan.

Soal kekurangan ini, teori lain menyatakan bahwa Bunda Maria adalah ‘genetic mosaic,’ di mana ada dua embrio kembar dalam rahimnya yang menjadikan embrionya mengusung kromosom Y.

Sumber/Foto/Artikel Asal : merdeka.com | islamidia

loading...
Loading...