NEWS

Tingalan Dalem Jumenengan, Ritual Adat Keraton Solo yang Sakral, Penting dan Mistis

loading...

Diawali dengan konflik keluarga, Jumenengan Raja Keraton Solo, PB XIII Hangabehi bakal digelar, Sabtu (22/4/2017) nanti.

Bagi Anda yang tidak akrab dengan Keraton Solo mungkin akan bertanya apakah Jumenengan itu dan bagaimana prosesnya nanti?

Dikutp dari www.kerajaannusantara.com, Jumenengan atau lengkapnya disebut Tingalan Dalem Jumenengan adalah salah satu penerapan adat istiadat kerajaan Jawa yang dinilai paling sakral dan bermakna penting.

Ritual tahunan ini diadakan untuk memperingati hari ulang tahun kenaikan tahta raja, sesuai dengan arti istilah Tingalan Dalem Jumenengan itu sendiri.

Dalam bahasa Jawa, kata Tingalan berarti ‘peringatan”, kata Dalem berarti panggilan kehormatan untuk seorang raja Jawa dan Jumenengan berasal dari kata jumeneng yang berarti “bertahta”.

Upacara adat Tingalan Dalem Jumenengan merupakan ritual yang wajib dilaksanakan di kerajaan-kerajaan yang masih mempunya garis darah dengan Kesultanan Mataram islam.

Tingalan Dalem Jumenengan 

Pelaksanaannya harus memenuhi dan mengikuti apa yang digariskan Dinasti Mataramn sejak dulu.

Prosesi jumenengan dilaksanakan setiap tanggal 2 di bulan Rumah dalam kalender Jawa.

Untuk memeriahkan Jumenengan itu, biasanya juga dilangsungkan sejumlah acara lain beberapa diantaranya diselenggarakan sehari sebelum Jumenengan yakni pemberian gelar kepada abdi dalem atau sentana dalem atau masyarakat umum.

Para penerima gelar ini berhak hadir dalam jumenengan. 

Acara Jumenengan memiliki prestise yang tinggi.

Orang-orang yang diundang ke acara ini biasanya berasal dari orang-orang terkemuka, tamu kehormatan, atau kalangan tertentu saja.

Selain kalangan pejabat internal keraton, orang-orang terhormat yang diundang ke acara ini adalah para pejabat negara atau perwakilan pemerintah pusat misalnya para menteri atau anggota DPR, juga pejabat daerah, dan utusan kerajaan lain baik di Indonesia maupun luar negeri.

Tari Bedhaya Ketawang

Hal yang berkaitan erat dan sakral dengan Jumenengan adalah tarian Bedhaya haya Ketawang.

Tari Jawa klasik ini hanya boleh ditampikan dalam acara jumenengan saja, tidak boleh untuk acara lain.

Tari Bedhaya Ketawang mengandung makna suci dan sakral yang ditarikan 9 gadis remaja yang belum menikah atau masih perawan.

Sejumlah penari Keraton Kasunanan Surakarta membawakan tarian sakral Bedhaya Ketawang. (JOGLOSEMAR.CO)

Penarinya berasal dari keluarga kerajaan atau masyarakat umum yang memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan.

Nama Tari Bedhaya Ketawang diambil dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di istana, dan ketawang yang berarti langit, yang identik sesuatu yang tinggi, kemuliaan dan keluhuran.

Tari Bedhaya Ketawang mengisahkan siklus kehidupan manusia dari kelahiran, perjalanan hidup, kematian hingga alam setelah kehidupan.

Namun, ada juga yang berpendapat tarian ini merupakan tari mistik yang dihubungkan dengan penguasa Luat Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Tari ini dianggap misterius karena diyakini memuat manifestasi hubungan batin antara Raja Surakarta dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Banyak yang meyakini, jumlah penari Bedhaya Ketawang sebenarnya bukan hanya 9 orang, melainkan 10 orang dimana yang seorang lagi dipercaya menari secara gaib.

Adapun gamelan yang mengiringi tarian ini adalah gamelan Kyai Kaduk Manisrenggo.

Penasaran dengan tariannya? Ini cuplikannya:

Sumber:tribunnews.com

loading...
Loading...