NEWS

Kisah Tukang Sate Ini Berhasil Menginspirasi Dan Menohok Ribuan Netizen Dengan Prinsip Hidupnya!

loading...

Memang semua hal itu sudah ada yang mengatur, siapa lagi kalau bukan Tuhan YME.

Jadi apapun yang terjadi kamu hanya harus berusaha dan berdoa agar Tuhan bisa mengabulkan permintaanmu.

Serta jangan lupa bersyukur terhadap segala pemberian yang telah dilimpahkan kepada kita.

Hal itulah yang dilakukan oleh seorang tukang sate di Surabaya yang kisahnya viral di Facebook.

Ia dikenal dengan nama Pak Haji Ramli, ia memiliki prinsip hidup yang ia berikan kepada sorang pembeli yang akhirnya dapat membuat netizen terinspirasi.

Hingga berita ini dibuat sudah lebih dari 66 ribu dibagikan, 11 ribu kali dikomentari dan 87 ribu kali di like.

Dalam unggahan berisi cerita dari akun Facebook Gabriel Steven tersebut ia memberi judul tersebut dengan “Rezeki Itu Ada di Langit, Bukan di Bumi!”

Berikut ini adalah cerita dari penjual sate tersebut.

“Saya punya sate langganan, Ini sate paling enak di surabaya menurut saya.

Susah cari lawannya!

Yang aneh, sate ini bukanya suka-suka.

Jadi kita harus telpon dulu kalau mau ke sana.

Beberapa kali saya nekad datang ke sana tanpa telepon dulu eeehhh tutup.

Saya tanya: “Kenapa cara jualannya seperti itu?

Pak haji Ramli penjual satenya menjawab: “Rejeki sudah ada yang ngatur, kenapa harus ngoyo?”

“Bukan ngoyo Pak”, jawab saya.

“Bapak bisa kehilangan pelanggan kalo jualannya begitu!”

“Ah, kayak situ yg ngatur rejeki aja”, katanya.

Saya kasih dia saran, “Sebaiknya Bapak buka tiap hari! Kalau bisa malam juga buka karena banyak orang suka makan sate malam juga Pak!”, kata saya meyakinkan dia.

Pak Haji Ramli menghela napasnya agak dalam.

“Hai anak muda, rezeki itu ada di langit bukan di bumi! Anda muslim kan?” tanya Pak haji sambil natap wajah saya.

“Suka ngaji gak? Coba baca Quran: “Cari nafkah itu siang, malam itu untuk istirahat!”, kata Pak haji lagi meyakinkan.

“Saya cuma mau jualan siang, kalau malam biarlah itu rejekinya tukang sate yang jualannya malam.

Dari jualan sate siang saja saya sudah merasa cukup dan bersyukur, kenapa harus buka sampe malam?”, Pak Haji nyerocos sambil membakar sate.

“Coba liat orang-orang yang kelihatanya kaya itu. Pake mobil mewah, rumahnya mewah. Tanya mereka, emang hidupnya enak?”

“Pasti lebih enak saya karena saya gak dikejar target, gak dikejar hutang!

Saya 2 minggu sekali pulang ke madura, mancing, naik sepeda lewat sawah-sawah, lewat kampung-kampung, bergaul dengan manusia-manusia yang menyapa dengan tulus.

Bukan nyapa kalau ada maunya!

Biarpun naik sepeda tapi jauh lebih enak daripada naik Jaguar!

Anginnya asli gak pake AC. Denger kodok, jangkrik lebih nyaman di kuping daripada dengerin musik dari alat musik bikinan!

Coba Anda pikir, buat apa kita ngoyo bekerja siang-malam?

Jangan-jangan kita muda kerja keras ngumpulin uang, sudah tua uangnya dipake ngobatin penyakit kita sendiri karena terlalu kerja keras waktu muda!

Itu banyak terjadi kan?

Dan… jangan lupa, Tuhan sudah menakar rejeki kita!

Jadi buat apa kita nguber rejeki sampe malam?

Rejeki gak bakal ketuker!!

Yang kerja siang ada bagiannya, begitu juga yang kerja malam!”

“Kalau kata peribahasa, waktu itu adalah uang.

Tapi jangan diterjemahkan tiap waktu untuk cari uang!

Waktu itu adalah uang, artinya kita harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya karena waktu tidak bisa diulang, uang bisa dicari lagi!

Waktu lebih berharga dari uang.

Makanya saya lebih memilih waktu daripada uang!”

“Waktu saya ngobrol dengan Anda ini jauh lebih berharga daripada saya bikin sate.

Kalau saya cuma bikin sate, di mata Anda, saya hanya akan dikenang sebagai tukang sate.

Tapi dengan ngobrol begini semoga saya bisa dikenang bukan cuma tukang sate, mungkin saya bisa dikenang sebagai orang yang punya arti dalam hidup Anda sebagai pelanggan saya.

Kita bisa bersahabat!

Waktu saya jadi berguna juga buat saya.

Begitu juga buat Anda.

Kalau Anda merasa ngobrol dengan saya ini sia-sia, jangan lupa ya: “Rejeki bukan ada di kantor, tapi di langit!” Begitu kata Pak Haji Ramli menutup pembicaraan.”

Netizen di Facebook pun merasa terinspirasi dengan cerita pedagang sate Haji Ramli ini

Ayu Ningtias: “Jlebb rasane ati. Di rewangi ngoyak dunyo tp akhirste lali (diusahakan mengejar dunia tapi akhirat lupa).”

Agus Inthesnow “Luar biasa sy jadi terinspirasi..dan ini pelajaran juga buat sy untuk memahami arti hidup dan rejeki itu sdh di atur yg kuasa..trmksih. .”

Ridwan Civ: “Mantap pak, hanya sedikit orang yang pola pikirnya seperti bapak haji ramli.”

Nurul Hidayati: “masya Allah….jarang2 yg spt ini..sangat merasuk hati tuk d pelajari…”

Melley Lea: “Betul pak,,pembelanjaran yg kecil namun memberi makna yg besar….izin share.”

Menurutmu gimana guys?

loading...
Loading...